Review; MAKNA LAGU ARA DALAM RITUAL PENTI PADA GUYUP TUTUR ETNIK MANGGARAI DI FLORES

Jumat, 23 September 2011
FRANSISKUS BUSTAN
MAKNA LAGU ARA DALAM RITUAL PENTI PADA GUYUP TUTUR ETNIK MANGGARAI DI FLORES
LINGUISTIKA Vol. 15, No. 28, Maret 2008
SK Akreditasi Nomor: 007/BAN PT/Ak-V/S2/VIII/2006
ISSN:


Fenomena bahasa yang dipakai satu kelompok etnik atau suku bangsa, baik dalam tataran interaksional makro maupun dalam tataran interaksional mikro, bukan merupakan sebuah entitas dan realitas yang berdiri sendiri, tetapi berhubungan erat dengan kebudayaan yang mewadahinya. Hubungan antara bahasa dan kebudayaan yang dianut satu kelompok etnik, menurut Hymes dalam Kupper dan Jessica (2000), dapat dilihat dari tiga perspektif terkait, yakni bahasa sebagai unsur budaya, bahasa sebagai indeks budaya, dan bahasa sebagai simbol budaya. Fenomena pemakaian bahasa sebagai unsur budaya tercermin dalam tuturan ritual, lagu atau nyanyian rakyat, ungkapan, teka-teki, pepatah, dan sebagainya. Fenomena pemakaian bahasa sebagai indeks budaya dapat dilihat dalam cara pengungkapan pikiran dan pengalaman mereka dalam menyingkap dunia, baik dunia yang secara faktual terjadi maupun dunia simbolik. Sebagai simbol budaya, bahasa mencirikan keberadaan kelompok etnik bersangkutan sebagai satu kelompok etnolinguistik atau satu guyub tutur tersendiri. Dalam perspektif ini, menurut Bustan (2005a), fenomena bahasa yang dipakai satu kelompok etnik tidak hanya berfungsi sebagai pemarkah kedirian mereka sebagai satu kelompok etnolinguistik atau guyub tutur, tetapi juga menjadi fitur pembeda dengan kelompok etnolinguistik atau guyub tutur yang lain.
Dalam tulisan ini, dikaji secara khusus dan mendalam tentang fenomena pemakaian bahasa sebagai unsur budaya pada guyup tutur etnik Manggarai yang mendiami sebagian besar wilayah Kabupaten Manggarai di Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Mengingat masalah tersebut memiliki cakupan yang sangat luas, penulis memilih fokus mengenai makna tekstual dan kontekstual satuan bahasa yang digunakan dalam lagu Ara. Dimana yang dimaksud dengan ‘lagu Araadalah salah satu lagu atau nyanyian rakyat Manggarai yang biasa dinyanyikannya dalam konteks ritual penti, ritual tahun baru adat pertanian yang dirayakannya sebagai pertanda peralihan tahun musim dari tahun musim yang lama ke tahun musim tanam yang baru (Bustan, 2005a; Bustan, 2005b; Bagul, 1997; Lawang, 1999). Makna budaya yang terkandung dalam satuan bahasa atau kode linguistik yang digunakan dalam lagu Ara memiliki karakteristik yang khas dan khusus dalam realitas sosial budaya guyup tutur etnis Manggarai. Kekhasan dan kekhususan karakteristik makna yang tersurat dan tersirat dalam satuan bahasa tersebut tidak hanya bertautan dengan ritual penti sebagai konteks situasi, tetapi juga berkaitan dengan konteks budaya Manggarai secara keseluruhan sebagai lingkungan non-verbal yang memberi makna atau nilai terhadap lagu Ara. Alasan lain yang mendasarinya adalah bahwa, belum ada hasil kajian yang mendalami secara khusus makna lagu Ara ditinjau dari perspektif linguistik kebudayaan dengan menggunakan rancangan etnografi dialogis dan perspektif emik sebagai sebuah inovasi keilmuan dalam penelitian hubungan kebudayaan.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis, diperoleh sebuah gambaran umum bahwa, lagu Ara merupakan salah satu produk dan praktek budaya Manggarai tetesan masa lalu yang bersifat multidimensional dan sarat makna. Dikatakan demikian karena, selain menyandang makna religius sebagai dimensi makna paling utama, dalam satuan bahasa yang dipakai dalam lagu Ara tergurat pula makna sosiologis dan makna estetis yang terajut dalam satu kesatuan dengan konteks ritual penti dan konteks budaya Manggarai secara keseluruhan. Dalam makna tersebut tersurat dan tersirat seperangkat gagasan dan cara pandang warga guyup tutur etnik Maggarai tentang dunia, baik dunia yang secara faktual terjadi maupun dunia simbolik atau dunia imaginatif yang keberadaan objek yang menjadi rujukannya hanya berada dalam tataran ideasional atau mewujud dalam bentuk peta pengetahuan, sesuai realitas sosial-budaya yang dihadapi dan dialaminya.

Makna Religius
Makna religius lagu Ara berkaitan dengan persepsi guyup tutur etnik Manggarai tentang eksistensi Tuhan (Morin agu Ngaran), roh leluhur (ende agu ema), dan roh alam (ata pele sina). Ketiga kekuatan supranatural tersebut diyakini sebagai sumber kekuatan moral utama yang sangat menentukan kesejahteraan hidup mereka sebagai manusia dan masyarakat dalam ziarah kehidupannya di dunia menuju kehidupan akhirat yang kekal dan abadi.
MAKNA SOSIOLOGIS
Selain mengandung makna religius, lagu Ara tersebut juga mengandung makna sosiologis, dimana satuan bahasa yang digunakan dalam lagu tersebut menyiratkan makna tentang pentingnya pemertahanan nilai persatuan yang dilandasi rasa kebersamaan sebagai saudara satu wa’u yang merupakan salah satu simpul utama untuk menunjang dan meningkatkan kesejahteraan hidup mereka sebagai manusia dan masyarakat. Selain menyatu dalam pikiran dan perasaan, diharapkan pula agar nilai persatuan itu menyata dalam berbagai perbuatan dan tindakan-tindakan ragawi mereka setiap hari di tengah masyarakat dengan tetap dan selalu mengedepankan kepentingan sosial-kolektif satu wa’u di atas kepentingan perseorangan. Alasan utama yang mendasarinya adalah bahwa, kesalehan ritual penti yang sebagiannya tercermin dalam satuan bahasa yang dipakai dalam lagu Ara ditakar secara empiris dalam kesucian sosial mereka dalam konteks kehidupannya setiap hari sebagai manusia dan masyarakat, yang pantulannya dapat dilihat dalam perilaku hidupnya setiap hari, terutama dalam lingkup kekerabatan wa’u sebagai klan patrilineal-genealogis.
MAKNA ESTETIS
Makna estetis lagu Ara berkenaan dengan nilai rasa seni yang tidak hanya mengandung nilai kenikmatan bentuk, tetapi juga mengundang nilai kenikmatan inderawi. Nilai rasa seni tersebut terajut dalam satu kesatuan dengan pemakaian fenomena puisitas guna menimbulkan efek musikal ketika lagu Ara didendangkan.
Bersetalian dengan konteks situasi dan konteks budaya yang melatarinya, dalam dan di balik fenomena puisitas tersebut tergurat seperangkat nilai kegunaan berupa nilai intrumental dan nilai kehidupan. Perangkat nilai tersebut berfungsi sebagai penuntun moral dan pedoman etika bagi warga guyup tutur etnik Manggarai dalam penataan perilaku hidupnya demi pemertahanan keselarasan hubungan transedental dengan Tuhan, roh leluhur, dan roh alam, serta keselarasan hubungan sosial kemasyaratan terutama dalam lingkup kehidupan satu wa’u sebagai klen patrilineal-genealogis. Ini berarti bahwa, selain sebagai wahana rekonsiliasi transendental dengan Tuhan, roh leluhur, dan roh alam, lagu Ara merupakan wahana rekonsiliasi sosial bagi warga satu wa’u.
 download jurnal; Makna Lagu Ara Dalam Ritual Penti pada Guyup Tutur Etnik Manggarai di Flores

Related Post:

0 komentar:

Poskan Komentar