FUNGSI DAN STRUKTUR SOSIAL

Senin, 10 Oktober 2011
Kali ini Postingan saya mengangkat topik FUNGSI DAN STRUKTUR SOSIAL. Tulisan ini merupakan salah satu tugas yang diberikan dosen saat saya mengambil Mata Kuliah Teori Antropologi. Dalam tulisan ini penulis menyadari banyak kekurangan, sehingga kritikan dan sara dari para pembaca sangat diharapkan..

FUNGSI SOSIAL
Dapat dikatakan asumsi mengenai cara kerja Antropologi adalah Etnografi, dengan melukiskan kebudayaan suatu suku bangsa. Apa yang terdapat didalamnya adalah hubungan berintegrasi antar aspek-aspek kebudayaan meskipun hanya terdapat satu aspek yang menjadi fokus, misalnya ekonomi atau religi. Itulah merupakan bahan mentah. Kemudian diabstraksikan, dianalisis lebih lanjut maka menghasilkan tiga tingkat abstraksi mengenai fungsi sosial.
Tingkat abstraksi pertama adalah fungsi sosial dari suatu adat, pranata sosial atau unsur kebudayaan mengenai pengaruh atau efeknya terhadap adat, tingkah laku dan pranata sosial yang lain dalam masyarakat. Maksud dari tingkat abstraksi pertama ini adalah kembali kepada apa yang dianjurkan Malinowski yakni penulisan etnografi secara berintegrasi, bagaimana seni berhubungan dengan religi. Misalnya sarung Sutra Mandar yang merupakan salah satu bentuk karya seni dari kebudayaan Mandar, merupakan lambang yang dianggap suci dan pelengkap upacara ritual dalam kehidupan masyarakat, seperti upacara pelantikan pejabat, penjeputan tamu, kelahiran, perkawinan, sunatan hingga pada upacara kematian. Disisi lain, keunikan motif menyebabkan sarung Sutra Mandar bernilai ekonomis dan usaha penenunan sarung Sutra juga merupakan salah satu sumber mata pencaharian masyrakat Mandar. Juga dari aspek sosial, secara umum digambarkan bahwa kepandaian menenun sarung dilakukan oleh kaum wanita, kemampuan seorang wanita menenun menggambarkan kesabaran, ketekunan, keuletan, hal ini dianggap sesuatu yang membanggakan. Sehingga satu aspek saja yang dilihat yakni seni, juga mengandung unsur-unsur lainnya. Inilah yang dimaksud dalam abstraksi tingkat pertama.
Tingkat abstraksi kedua ialah fungsi sosial dari sudut adat, pranata sosial atau unsur kebudayaan mengenai pengaruh atau efeknya terhadap kebutuhan suatu adat atau pranata lain untuk mencapai maksudnya, seperti yang dikonsepsikan masyarakat yang bersangkutan. Atau pemahaman suatu institusi di dalam konsep-konsep atau istilah-istilah sepeeti dibatasi oleh anggota suatu masyarakat. Contohnya sekarang terdapat pranata-pranata buatan manusia seperti Arisan (pranata sosial), kemudian pengajian (pranata agama), kalau koperasi itu lebih bersifat sosial karena tolong-menolong, sedangkan ekonomi itu yang mau mendapatkan keuntungan, misalnya industri (pranata ekonomi). Masing-masing pranata tersebut saling membutuhkan untuk mensukseskan kegiatannya. Misalnya pranata arisan yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dengan usaha kecil, kemudian pengajian supaya agama dan keyakinan bertambah mantap, sedangkan usaha industri agar supaya produk tertentu produktifitasnya dapat meningkat dan laku. Kemudian orang melakukan arisan. Di dalam arisan itu terdapat pengajian supaya orang yang datang arisan dapat belajar agama. Kemudian di situ juga diadakan demo produk industri. Dan disitu sangat disadari dibutuhkan seperti yang dikonsepsikan atau diinginkan.
Tingkat abstraksi ketiga ialah fungsi sosial dari suatu adat atau pranata sosial mengenai pengaruh atau efeknya terhadap kebutuhan mutlak untuk berlangsungnya secara berintegrasi dari suatu sistem sosial yang tertentu. Contohnya, arisan melibatkan sosial,  agama berkenaan dengan keyakinan, ekonmi yang membutuihkan pendapatan atau keuntungan, kesemuanya ini sesungguhnya dimaksudkan untuk mencapai suatu kemantapan tatanan sosial atau kestabilan sosial. Artinya kebutuhan akan religi, ekonomi dan semua institusi direduksi untuk sosial.

STRUKTUR SOSIAL
Dalam Antropologi terdapat beberapa macam teori Struktural, namun konsep ini pertama kali diajukan oleh seorang ahli berkebangsaan Inggris, yakni A.R.Radclife Brown. Meskipun konsep ini sering digunakan dalam tulisannya, penjelasan secara jelas dan ringkas diberikan dalam pidato pengukuhan sebagai ketua lembaga Antropologi “Royal Anthropological Institutue of Great Britain and Ireland” pada tahun 1939. Dalam pidatonya dia menerangkan bahwa teori struktural terdiri dari 11 tese. Namun tese pertama hingga keempat sama dengan ketiga tingkat abstraksi milik Malinowski. Dalam keempat tese pertama itu, Brown ingin menerapkan metode ilmu alam untuk mengkaji sosial-budaya. Dia ingin menyamakan masyarakat memiliki unsur-unsur. Menurutnya masyarakat memiliki unsur-unsur  karena dia adalah struktur seperti organisme dan dia mirip dengan alam.
Dalam tese kelimanya, Brown sampai pada inti teorinya dengan mengatakan bahwa struktur sosial merupakan total dari jaringan hubungan antar individu atau person-person dan kelompok-kelompok person. Dimensinya ada dua, yaitu hubungan diadik-hubungan antar pihak pertama (person) dan pihak kedua (kelompok), dan juga diferensial antar satu pihak dengan beberapa pihak yang berbeda-beda, atau sebaliknya.”Bentuk dari struktur sosial” adalah tetap, dan jika berubah, proses itu biasnya berjalan lambat. Sedangkan “realitas struktur sosial” atau wujud dari struktur sosial, yaitu person-person atau kelompok-kelompok yang ada didalamnya selalu berubah atau berganti. Tentunya ada beberapa peristiwa yang dapat juga membentuk dari struktur sosial itu mendadak berubah, seperti peristiwa perang atau revolusi.
Sebagai contoh keluarga. Keluarga merupakan satu organisasi atau lembaga yang memiliki seorang ayah, seorang ibu dan beberapa anak, yang merupakan unsusr-unsur dari keluarga inti. Unsur tersebut jika disatukan akan memebentuk suatu organisasi dengan sebuah struktur kelurga inti. Yang dimaksud struktur dalam struktur sosial adalah keseluruhan jaringan, atau hubungan antara ketiga unsur keluarga tersebut. Jaringan dapat dilihat lewat pranata dan aturan. Aturan itu menggariskan status dan peran tiap anggota keluarga. Misalnya, anak harus membantu orang tua, belajar, dsb. Atau pada saat anak bertemu dengan orang tuanya, apakah dia tunduk kemudian berbicara atausambil melihat wajahnya. Kemudian bagaiman berhubungan dengan ibunya, tentunya berlainan berdasarkan kebudayaan masing-masing orang.

Related Post:

0 komentar:

Poskan Komentar