KONSEP ADAPTASI, EKOSISTEM DAN LINGKUNGAN

Minggu, 25 September 2011
Dalam studi mengenai lingkungan sangat kental dengan konsep adaptasi, selain konsep lingkungan itu sendiri yang serupa dengan konsep ekosistem.
Adaptasi merupakan konsep yang telah lama digunaka dalam studi ekologi budaya/ekologi manusia sejak digunakan pertama kali oleh Julian Steward (1955). Dari sudut pandang ekologi manusia, Adapatasi difahami sebagai suatu strategi penanggulangan oleh manusia dalam merespon umpan balik negatif dari lingkungan hidup suatu makhluk hidup[1]. Umban balik yang dimaksudkan adalah segalag perubahan yang disebabkan oleh lingkungan, baik ekosistem/lingkungan biofisik dan sistem sosial[2].
 Berdasarkan hal tersebut ditas maka, adaptasi terbagi dalam tiga tipe; adaptasi cara fisiologi, adaptasi cara perilaku dan adaptasi cara kebudayaan[3]. Adaptasi cara fisoliologi dan cara perilaku merupakan adaptasi biologi atau evolusi, agar manusia dapat bertahan hidup dan berhasil bereproduksi. Sedangkan adaptasi secara kebudayaan atau adaptasi tipe ketiga, difahami sebagai; “proses budaya yang terjadi dalam rangka untuk memelihara keseimbangan antara populasi penduduk dengan sumber daya alam dalam suatu ekosistem”[4].
Dengan demikian, secara sederhana adaptasi merupakan respon dari hambatan yang bersifat negatif bagi makhluk hidup. Hambatan tersebut terjadi akibat keterbatasan fisik makhluk itu sendiri, selain memang telah menjadi hukum alam. Bagaimana pun juga, dalam hal ini yang menjadi inti adalah hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya, dimana secara keseluruhan semuanya hidup dalam suatu ekosistem.

Strategi Adapatasi atau Penyesuaian Diri (Adjustment)
Secara umum, strategi adaptasi (adaptive stategy) dapat diartikan sebagai rencana tindakan yang dilakukan manusia baik secara sadar maupun tidak sadar, secara eksplisit maupun implisit dalam merespon berbagai kondisi internal atau eksternal[5]. Sementara itu, Marzali dalam bukunya menjelaskan secara luas strategi adaptasi adalah merupakan perilaku manusia dalam mengalokasikan sumberdaya yang mereka miliki dalam menghadapi masalah-masalah sebagai pilihan-pilihan tindakan yang tepat guna sesuai dengan lingkungan sosial, kultural, ekonomi, dan ekologis di tempat dimana mereka hidup[6].
Berdasar penjelasan Amri Marzali diatas, sangat erat kaitannya dengan konsep lingkungan hidup dalam studi mengenai lingkungan, atau konsep lingkungan bianaan (managed ecosystem)[7], yaitu; lingkungan yang memiliki pengaruh dari manusia baik langsung maupun tidak langsung[8]. Konsep ini juga tertuang dalam Undanga-Undang No. 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup[9] , yakni Lingkungan hidup adalah sistem yang merupakan kesauan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan mahluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang menentukan perikehidupan serta kesejahteraan manusia dan mahluk hidup lainnya.
Adaptasi bukan hanya terjadi di satu tempat saja melainkan di berbagai tempat, tidak terkecuali di kota. Keanekaragaman suku-bangsa dan golongan sosial di kota, telah memunculkan terjadinya berbagai strategi adaptasi. Pemahaman terhadap strategi adaptasi yang diterapkan mencerminkan bentuk kognitif yang dipelajari melalui sosialisasi dari pendukung suatu budaya, yang kemudian diharapkan mampu memberikan penjelasan terhadap fenomena sosial yang dihadapi[10]. Kapasitas manusia untuk dapat beradaptasi ditunjukkan dengan usahanya untuk mencoba mengelola dan bertahan dalam kondisi lingkungannya. Kemampuan suatu individu untuk beradaptasi mempunyai nilai bagi kelangsungan hidupnya. Makin besar kemampuan adaptasi suatu makhluk hidup, makin besar pula kemungkinan kelangsungan hidup makhluk tersebut[11].


[1] Emilio F. Moran. 1982:05. Human Adaptability; An Introduction to Ecological Anthropology. Westview Press. Boulder, Colorado.
[2] ibid
[3] ibid
[4] Johan Iskandar. 2009:209. Ekologi Manusia dan Pembangunan Berkelanjutan. Program Studi Magister Ilmu Lingkungan. Universitas Padjadjaran.
[5] Op.cit Point 3. Hal.6
[6] Amri Marzali. 2003:26. Strategi Peisan Cikalong dalam Menghadapi Kemiskinan. Penerbit Yayasan Obor Indonesia. Jakarta
[7] Op.cit Point 4. Hal.17 
[8] Moh. Soerjani, Rofiq Ahmad dan Rozy Munir (ed). 1987:3. Lingkungan: Sumberdaya Alam dan Kependudukan Dalam Pembangunan. Penerbit UI-Press. Jakarta
[9] ibid
[10] Dr. Hari Poerwanto. 2006:242. Kebudayaan dan lingkungan dalam Perspektif Antropologi. Cetakan Ketiga. Penerbit Pustaka Pelajar. Yogyakarta
[11] Otto Soemarwoto. 2008:45. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Cetakan Kesebelas. Penerbit Djambatan. Jakarta.

Related Post:

0 komentar:

Poskan Komentar