Social Anthropology and Human Origins

Rabu, 28 September 2011
Judul; Social Anthropology and Human Origins
Pengarang; Alan Barnard
Tahun; 2011 (Edisi 1)
Penerbit; Cambrigde University Press, New York, US
"Buku ini baru saja saya download (skitar 15mnit yg lalu sblum postingan ini sy buat). Buku ini kiriman dari senior saya (Ka' Fez). Dalam buku ini Penulis memaparkan asal usul (Human Origins) dan perkembangan manusia, namun bukan dari sudut pandang Biologi (C. Darwin), Penulis menggunakan sudut pandang Sosial".
Review bukunya hanya singkat dan mungkin masih ad kekurangan, soalnya belum tuntas bacanya.. Diatas cuma review secara umum. So, yang tertarik buat miliki buku ini, bisa menghubungi saya (Via FB, Twitter or YM)..

Free Software; GenoPro 2007 V2.0.1.4

Selasa, 27 September 2011
Postingan kali ini bukan tentang Tulisan, Ebook atau Jurnal yang berhubungan dengan Ilmu Sosial, khususnya Antropologi.. Namun kali ini sy upload sebuah software. Loh!! trus.. apa hubungannya dengan dengan Antro?? Hubungannya, yah software ini dipake sbage alat bantu dalam sebuah riset (biar tdk cpek buat pohon kluarga scara manual), khususnya yg fokus risetnya mngenai kekerabatan, sperti yg kami lakukan wktu Paltihan Dasar Penelitian Antropologi tahun 2008 di Pulau Bone Tambu. Namun bukan hanya itu, fokus lainnya pun jga bisa pake koq (Struktur dan jaringan organisasi misalnya, dan msih banyak lgi, yg mesti ada bagan2nya..). Software ini pertama kali sy dpt dri Dosen sy (Ka’ Neil), trus yg ngajarin cara makenya Ka’ Fez ma Ka’ Yuli J...
Yah sudah basa-basinya.. nama softwarenya GenoPro 2007 versi 2.0.1.4, compitable di Windows XP, Vista ma Win7 (klo win8 kurang tau soalnya blum cobo., buat tmn2 yang tertarik untuk mencobanya.. silahkan di download softwarenya (link ad dibwah).
SELAMAT MENCOBA yah!!!!

KONSEP ADAPTASI, EKOSISTEM DAN LINGKUNGAN

Minggu, 25 September 2011
Dalam studi mengenai lingkungan sangat kental dengan konsep adaptasi, selain konsep lingkungan itu sendiri yang serupa dengan konsep ekosistem.
Adaptasi merupakan konsep yang telah lama digunaka dalam studi ekologi budaya/ekologi manusia sejak digunakan pertama kali oleh Julian Steward (1955). Dari sudut pandang ekologi manusia, Adapatasi difahami sebagai suatu strategi penanggulangan oleh manusia dalam merespon umpan balik negatif dari lingkungan hidup suatu makhluk hidup[1]. Umban balik yang dimaksudkan adalah segalag perubahan yang disebabkan oleh lingkungan, baik ekosistem/lingkungan biofisik dan sistem sosial[2].
 Berdasarkan hal tersebut ditas maka, adaptasi terbagi dalam tiga tipe; adaptasi cara fisiologi, adaptasi cara perilaku dan adaptasi cara kebudayaan[3]. Adaptasi cara fisoliologi dan cara perilaku merupakan adaptasi biologi atau evolusi, agar manusia dapat bertahan hidup dan berhasil bereproduksi. Sedangkan adaptasi secara kebudayaan atau adaptasi tipe ketiga, difahami sebagai; “proses budaya yang terjadi dalam rangka untuk memelihara keseimbangan antara populasi penduduk dengan sumber daya alam dalam suatu ekosistem”[4].
Dengan demikian, secara sederhana adaptasi merupakan respon dari hambatan yang bersifat negatif bagi makhluk hidup. Hambatan tersebut terjadi akibat keterbatasan fisik makhluk itu sendiri, selain memang telah menjadi hukum alam. Bagaimana pun juga, dalam hal ini yang menjadi inti adalah hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya, dimana secara keseluruhan semuanya hidup dalam suatu ekosistem.

Strategi Adapatasi atau Penyesuaian Diri (Adjustment)
Secara umum, strategi adaptasi (adaptive stategy) dapat diartikan sebagai rencana tindakan yang dilakukan manusia baik secara sadar maupun tidak sadar, secara eksplisit maupun implisit dalam merespon berbagai kondisi internal atau eksternal[5]. Sementara itu, Marzali dalam bukunya menjelaskan secara luas strategi adaptasi adalah merupakan perilaku manusia dalam mengalokasikan sumberdaya yang mereka miliki dalam menghadapi masalah-masalah sebagai pilihan-pilihan tindakan yang tepat guna sesuai dengan lingkungan sosial, kultural, ekonomi, dan ekologis di tempat dimana mereka hidup[6].
Berdasar penjelasan Amri Marzali diatas, sangat erat kaitannya dengan konsep lingkungan hidup dalam studi mengenai lingkungan, atau konsep lingkungan bianaan (managed ecosystem)[7], yaitu; lingkungan yang memiliki pengaruh dari manusia baik langsung maupun tidak langsung[8]. Konsep ini juga tertuang dalam Undanga-Undang No. 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup[9] , yakni Lingkungan hidup adalah sistem yang merupakan kesauan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan mahluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang menentukan perikehidupan serta kesejahteraan manusia dan mahluk hidup lainnya.
Adaptasi bukan hanya terjadi di satu tempat saja melainkan di berbagai tempat, tidak terkecuali di kota. Keanekaragaman suku-bangsa dan golongan sosial di kota, telah memunculkan terjadinya berbagai strategi adaptasi. Pemahaman terhadap strategi adaptasi yang diterapkan mencerminkan bentuk kognitif yang dipelajari melalui sosialisasi dari pendukung suatu budaya, yang kemudian diharapkan mampu memberikan penjelasan terhadap fenomena sosial yang dihadapi[10]. Kapasitas manusia untuk dapat beradaptasi ditunjukkan dengan usahanya untuk mencoba mengelola dan bertahan dalam kondisi lingkungannya. Kemampuan suatu individu untuk beradaptasi mempunyai nilai bagi kelangsungan hidupnya. Makin besar kemampuan adaptasi suatu makhluk hidup, makin besar pula kemungkinan kelangsungan hidup makhluk tersebut[11].


[1] Emilio F. Moran. 1982:05. Human Adaptability; An Introduction to Ecological Anthropology. Westview Press. Boulder, Colorado.
[2] ibid
[3] ibid
[4] Johan Iskandar. 2009:209. Ekologi Manusia dan Pembangunan Berkelanjutan. Program Studi Magister Ilmu Lingkungan. Universitas Padjadjaran.
[5] Op.cit Point 3. Hal.6
[6] Amri Marzali. 2003:26. Strategi Peisan Cikalong dalam Menghadapi Kemiskinan. Penerbit Yayasan Obor Indonesia. Jakarta
[7] Op.cit Point 4. Hal.17 
[8] Moh. Soerjani, Rofiq Ahmad dan Rozy Munir (ed). 1987:3. Lingkungan: Sumberdaya Alam dan Kependudukan Dalam Pembangunan. Penerbit UI-Press. Jakarta
[9] ibid
[10] Dr. Hari Poerwanto. 2006:242. Kebudayaan dan lingkungan dalam Perspektif Antropologi. Cetakan Ketiga. Penerbit Pustaka Pelajar. Yogyakarta
[11] Otto Soemarwoto. 2008:45. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Cetakan Kesebelas. Penerbit Djambatan. Jakarta.

Teori Strukturalisme dan Perkembangannya

Sabtu, 24 September 2011
Berbicara tentang teori Stukturalisme dalam disiplin ilmu Anthropology tentunya kita tidak bisa memisahkannya dari teori Fungsionalisme atau Stuktural-Fungsionalisme. Berdasarkan hal ini, jika ingin mempelajari teori-teori dan konsep-konsep yang terdapat dalam pemikiran strukturalisme, tentunya kita tidak bisa mengabaikan pemikiran Fungsionalisme atau Struktural-Fungsionalisme. Bahkan dalam perkembangannya hingga saat ini, pengaruh pemikiran Funsionalisme ini masih tetap besar dalam Antropologi. 
Penulis; Ruddy Agusyanto, M.Si

Struktural Levi Strauss dalam Si Kabayan

Kita tahu, bahwa sebuah dongeng merupakan gambaran kejadian pada zaman dahulu. Biasanya disampaikan dalam bentuk lisan. Kemudian pada perkembangan berikutnya cerita-cerita itu ditulis dan dipublikasikan. Dongeng mungkin cerita khayalan, tetapi dari situ kita bisa melihat bahwa khayalan dalam dongeng bukan khayalan yang tanpa pijakan. Dongeng tetap mempunyai sumber dari mana dirinya datang. Dalam hal inilah Levi Strauss mengatakan bahwa dongeng merupakan hasil dari nirsadar seseorang atau kelompok masyarakat. Karena itu untuk memahami struktur mitos dapat dijelaskan dengan menunjuk pada fungsinya, yakni sebagai media untuk mengembangkan suatu argumen logis dalam bentuk proposisi-proposisi. Melalui cara ini mitos dianggap dapat membantu memecahkan atau menjelaskan berbagai kontradiksi yang ada dalam berbagai kepercayaan yang dianut oleh suatu masyarakat (Ahimsa, 2001). Melalui pemikiran tersebut, sebagai asumsi dasar, penulis mencoba menganalisis Si Kabayan dengan menggunakan pendekatan Strukturalisme Levi Strauss.

Struktural-Fungsionalis

This article deals with the concepts of function and social structure, developed by two leading figures in British Social Anthropology, Radcliffe -Brown and Malinowski, before the Second World War. In this article, the author distinguishes Malinowski's concept of function from Radcliffe -Brown's, delineates Radcliffe-Brown's concept of social-structure and Evans-Pritchard's review of this concept. This article particularly inteds to help the Indonesia students to study anthropological theory in their own language.

Software; Save As PDF and XPS

File ini adalah file plugin dari microsoft word 2007 agar MS word 2007 bisa menyimpan file yg sudah kita ketik (mis; Microsotf Word) ke dalam format PDF dan XPS. TERTARIK???

untuk itu ikuti langkahnya;

  1. Download file  dari microsoft SaveAsPDFandXPS.exe
  2. Jalankan file SaveAsPDFandXPS.exe (klik 2x File)
  3. Kemudian ikuti instruksi instalasi SaveAsPDFandXPS
  4. Setelah instalasi, sekarang anda tinggal membuka dokumen Anda menggunakan microsoft office 2007, (contoh: microsoft word)
  5. Klik menu utama microsot word, kemudian pilih menu Save As
  6. Apabila instalasi SaveAsPDFandXPS benar maka seharusnya terdapat menu PDF and XPS dalam sub menu Save As. Kemudian klik Publish.

Etnomedisin

Salah satu tulisan ahli antropologi yakni Erwin Ackerknecth pada tahun 1940-an, tanpa malu-malu membahas mengenai pengobatan primitif, hal ini dikarenakan mereka melakukan penelitian pada masyarakat primitif. Namun pada saat setelah Perang Dunia II, studi antropologi berubah dari masyarakat primitif ke masyarakat desa, membuat para ahli antropologi dalam hal mendeskripsikan sistem medis yang berbeda dengan sistem medis barat merasa kebingungan mengenai peristilahan. Seperti istilah Redfield yakni “pengobatan rakyat” (folk medicine), yang menimbulkan kebingungan, karena dalam masyarakat yang teknologinya maju, pengobatan populer sering pula disebut sebagai pengobatan “rakyat”.
Kebingungan tersebut bukanlah karena tidak relevannya istilah yang dulu (primitif) untuk digunakan pada saat sekarang, namun ketakutan akan kritikan karena istilah tersebut mengandung makna yang merendahkan. Hal ini terbukti dengan adanya ahli antropologi yang berusaha menghilangkan kata “primitif” pada setiap tulisannya, seperti Ackerknecth. Namun apabila berpindah dari kerangka tipe-tipe masyarakat kepada kerangka etiologi, kepada konsep-konsep tentang kausalitas penyakit, Foster dan Anderson tidak akan menghapus istilah sebelumnya, namun berpendapat bahwa apabila istilah-istilah yang digunakan dalam konteks sistem klarifikasi dengan label istilah-istilah yang relatif netral, maka istilah-istilah tersebut tidak akam merugikan siapa pun.............................
(ANTROPOLOGI KESEHATAN;FOSTER/ANDERSON;Hal;61-83)

ALAM, KEBUDAYAAN DAN YANG ILAHI

Jumat, 23 September 2011
Judul; ALAM, KEBUDAYAAN & YANG ILAHI
Penulis; Tony Rudyansjah
Tahun Terbit; Juni 2011 (Edisi 1)
Halaman ; xviii + 256 hlm.
ISBN; 978-602-99013-1-3

JURNAL ANTROPOLOGI PAPUA Volume 2. NO. 4 Agustus 2003

Daftar Isi;
  1. Konservasi Sumber Daya Alam Papua Ditinjau Dari Aspek Budaya - Johsz R. Mansoben
  2. TOWE; Masyarakat Yang Hampir Punah - Djekky R. Djoht
  3. Kepercayaan Asli Orang Meybrat - Alberthus Heryanto
  4. Wor Sebagai Fokus dan Dinamika Hidup Kebudayaan Biak - Frans Rumbrawer
  5. Kebudayaan Suku Sebyar di Teluk Bintuni Papua Studi Kasus Desa Tomu - Enos Rumansara
  6. Pemahaman Hak Asasi Manusia Dari Sisi Hukum dan Budaya - Frans Reumi
  7. Pembangunan Ekonomi Rakyat: Sebuah Pemikiran Akademis